Mengapa Aku Harus Mencintai dia?

Titik Kosong – Begitu banyak manusia lain yang ada di dunia ini. Begitu banyak laki-laki lain di sekitarku. Tapi, mengapa aku harus mencintai dia?

Mengapa Aku Harus Mencintai Dia
Sumber gambar: kincir.com

Cinta. Hal klise yang sudah sering dibicarakan orang. Banyak yang tersenyum bahagia ketika menceritakannya. Tapi tidak sedikit pula yang harus menahan nyeri dan lara ketika hendak mengisahkannya. Seperti aku, yang memang merasa payah dan lelah dengan cinta ini.

Adhista selalu bilang padaku, dia membenci cinta yang terpendam dalam diam. Dia ingin aku mengatakan. Dia ingin aku mengungkapkan. Apapun resikonya. Dia selalu bilang bahwa aku harus berani. Dia tidak ingin melihatku menyesal di kemudian hari. Tapi bagiku, semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat. Dan aku sudah merasakan penyesalan itu. Penyesalan yang entah kubawa sampai kapan dalam hidupku.

Tidak ada yang harus kuungkapkan lagi dari rasa ini selain kusimpan sendiri. Bagimanapun, aku memikirkan hal-hal lain di luar cinta. Apa yang mungkin terjadi setelah aku mengatakannya. Dan dalam pikiranku, rasanya memang sudah terlambat. Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi. Bahkan tidak pula perasaanku sendiri.

Biar kuceritakan. Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu, aku dan Rangga sempat saling dekat. Kami sering bersama dalam urusan organisasi. Saat itu, memang kedekatanku dengannya hanya sewajarnya saja. Aku tidak memiliki rasa apapun. Tapi karena aku yang memang mudah bergaul ini terlihat dekat dengannya, orang lain menilai bahwa aku memberikan harapan palsu saja kepada Rangga. Padahal waktu itu tak ada maksud lain selain menjalani tugas organisasi bersama. Ya, aku memang belum ada rasa.

Intip juga:  Puisi Kematian: Tentang Kenang dan Kehilangan

Sakit karena dianggap pemberi harapan palsu, aku sedikit demi sedikit menjauhi Rangga. Bukan hanya dia, tapi juga laki-laki lain agar tak ada lagi fitnah yang sama. Tapi setelah ini aku sadar, bahwa ada sesuatu yang kurindukan. Ada sesuatu yang menghilang. Ada sesuatu yang kuinginkan untuk berada lagi di dekatku. Dan itu adalah dia. Jarak yang kubuat sendiri menjadi bumerang bagi diriku sendiri pula.

Jarak itu bukan hanya menjauhkanku darinya. Tetapi jarak itu juga membuat orang lain masuk secara leluasa di antara kami. Aku, yang tak punya hak apapun atas Rangga pada akhirnya harus merelakan dia bersama orang lain. Dan di sinilah aku semakin merasa kehilangan. Dan kehilang inilah yang pada akhirnya membuatku sadar. Bahwa… aku mencintai dia.

Hari demi hari aku masih terus memelihara rasa ini. Aku memang sudah tau Rangga bersama orang lain. Aku pun tidak buta jika ada orang lain yang berusaha datang dan mendekat. Tapi mengapa aku hanya mencintai Rangga? Mengapa aku harus mencintai dia? Mengapa bukan yang lain saja?


Bagian ketiga dari Kisah “Yang Terkubur dan Tak Mati”.


Bagian Pertama
Bagian Kedua

Bagian Keempat
Bagian Kelima

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

One thought on “Mengapa Aku Harus Mencintai dia?

  • 29/11/2018 at 10:36
    Permalink

    Aku mencintai seorang wanita

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *