Sore, Musik, dan Hati yang Jatuh

Titik KosongDan jika sore akan berkunjung lagi nanti, aku ingin menyambutnya bersamamu di sana. Dan aku ingin angin membelai wajah kita bersama.

Sore, Musik, dan Hati yang Jatuh 1
Sumber gambar: aliexpress.com

Cinta bisa datang kapan saja dan di mana saja. Apa kau pernah percaya akan hal itu? Atau kau bahkan sudah membuktikannya. Kalau kau bertanya, aku akan menjawab bahwa aku percaya.

Seperti cinta pada pandangan pertama, tidak semua orang mengangkat tangan tanda setuju akan kebenarannya, tapi tidak semua orang juga mengangkat tangan tanda tidak setuju. Artinya setiap orang memiliki kisah cinta yang berbeda.

Aku tidak mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Justru dia seorang laki-laki yang sudah kukenal sejak lama. Dia berada dalam kelas yang sama denganku di sekolah.  Kami sering mengerjakan tugas kelompok bersama, dan semua biasa saja. Aku hanya menganggap dia sebagai teman, begitu pula dengan dia. Tidak ada sesuatu yang bisa dibilang khusus di antara kami.

Aku Tasya. Aku tidak tahu banyak hal tentang dia. Dan dia, namanya Satya, anak pintar yang juga pandai bermain gitar. Semua orang mengaguminya. Tapi entah kenapa, tidak timbul  kekaguman di hatiku. Bagiku dia hanya sebatas teman sekelas yang pintar dan jago main gitar. Cukup. Itu saja. Anggap saja aku seorang siswi yang tidak terlalu memperhatikan teman lelakinya.

Sudah berlangsung dua tahun kami berada dalam kelas yang sama, belajar bersama dan tidak jarang juga kami duduk berdampingan. Tidak jarang aku mendengar cerita tentang siswi-siswi yang jatuh hati padanya. Kedengarannya dia begitu indah di mata mereka. Aku tidak terlalu memerhatikan dia selama ini, dan tidak ada pula dorongan bagiku untuk melakukannya.

Di suatu sore, aku sedang asyik mendengarkan musik melalui headset yang terpasang di telingaku. Sore itu sekolah sudah lumayan sepi. Aku paling suka suasana itu. Aku sering datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Suasana itu sangat syahdu.

Di pagi hari aku melihat uap-uap air di dedaunan dan bunga-bunga, sedangkan di sore hari aku melihat orang-orang berangsur pergi. Satu per satu hingga seringkali hanya tinggal aku yang masih ada di sekolah.

Keramaian, hiruk-pikuk berubah menjadi tentram seperti lagu-lagu melow yang sering kudengarkan. Sesekali aku memejamkan mataku mencoba menghayati setiap lirik lagu. Dan sering kali juga aku ikut bernyanyi karena itu memang hobiku.

Intip juga:  Memahami Hati Sahabatku
Sore, Musik, dan Hati yang Jatuh 2
Sumber gambar: plukme.com

Aku tidak menyadari ternyata ada sepucuk surat di dekatku. Tertulis di amplop surat itu, “Untukmu”. Aku tersenyum membayangkan pengirimnya adalah orang yang romantis. Aku tidak berpikir untuk membukanya, mungkin seseorang duduk di bangku itu sebelum aku. Aku memutuskan untuk membawa dan menyimpan surat itu. Sebelumnya, aku meninggalkan pesan disana, “Suratmu di simpan oleh seseorang yang sering mendengarkan musik di sini”.

Seminggu setelah hari ketika aku menemukan surat itu, aku kembali menemukan surat dengan tujuan yang sama, “Untukmu”. Aku mengambil dan menyimpannya bersamaku dengan tetap meninggalkan pesan yang sama, “Suratmu disimpan oleh seseorang yang sering mendengarkan musik di sini”.

Seminggu setelahnya aku kembali menemukan surat yang sama. Dan seminggu setelahnya juga. Denga tujuan yang sama,”Untukmu”. Dan lagi aku membawa surat itu, namun kali ini tanpa meninggalkan pesan. Kuanggap  dia sudah tau siapa yang membawa suratnya.

Aku melihat laci dan mengambil tiga surat lainnya. Dan kini sudah ada empat surat di tanganku. Aku tetap tidak memilih untuk membacanya. Keempat surat itu kukembalikan ke dalam laci lagi.

Minggu selanjutnya. Diadakan pameran produk kerajinan tangan di sekolahku. Lapangan sekolah diisi stands dan dipenuhi banyak orang. Di sudut lapangan didirikan sebuah panggung di mana semua orang bisa melihat ke arahnya.

Di panggung itu akan ada penampilan dari siswa-siswi sekolah kami. Aku tidak terlalu peduli dengan siapa yang bernyanyi. Bagiku, aku hanya cukup mendengarkan lagu yang mereka nyanyikan.

Lalu,aku berjalan ke arah panggung di mana temanku berada. Dan saat itu juga aku mendengar lagu Close To You yang dipopulerkan oleh The Carpenters. Kali ini lagu itu dinyanyikan oleh seorang anak laki-laki. Lagu gembira dengan ritme slow itu sangat cocok dengan suaranya yang macho dan merdu.

Bukan pertama kalinya aku mendengar suara itu. Itu juga bukan pertama kalinya aku mendengar orang itu bernyanyi. Tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mataku sangat ingin melihat ke arahnya. Dan akhirnya aku mengarahkan pandanganku kepada pemilik suara itu.

Aku sangat terkejut karena mendapati ia juga sedang melihatku. Aku diam di posisiku sambil memandanginya. Dan dia juga memandangiku sambil tetap bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sesekali perhatiannya berpindah ke senar gitar yang disentuh oleh jari-jari lentiknya.

Intip juga:  Daftar Isi Cerita Bersambung di titikkosong.net

Aku sangat menikmati. Mendengarkan lagu sambil memandanginya. Dan ia juga terus memandangiku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Jantungku berdegup kencang, aku bahkan bisa mendengar bunyi degupannya.

Aneh, ini benar-benar aneh. Aku tetap berdiri dengan mata kami yang terus berpandangan. Orang-orang lalu-lalang di sekitar kami tanpa tahu sesuatu telah terjadi. Begitu juga dengan aku, tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Sejak hari itu, di kelas kami tidak saling tegur. Entah kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu takut untuk menatap matanya yang indah. Kurasa bukan takut, tapi malu. Ketika berpapasan kami hanya saling menganggukkan kepala untuk menyapa. Astaga, itu benar-benar suasana yang sangat canggung.

Sudah dua minggu sejak surat ke empat dan aku tidak pernah menemukan surat lagi. Ketika aku sampai di kamar, aku membuka laci dan mengambil ke empat surat itu.

“Kenapa orang itu tidak pernah mengambil surat yang tertuju padanya” pikirku.

“Mungkin orang itu sudah menyerah karena suratnya tidak pernah diterima. Itu sebabnya ia tidak mengirim surat lagi” pikirku lagi.

Aku berpikir untuk mencari tau kepada siapa surat itu tertuju dengan membaca isi suratnya.

Sore, Musik, dan Hati yang Jatuh 3
Sumber gambar: paulinadamayanti.blogspot.com

Surat pertama:

“Apa kau begitu menikmati hari sore? Sehingga kau tidak pernah sadar kalau aku sedang berdiri di belakangmu. Aku menyukai suaramu yang merdu. Aku suka ketika kau menggoyang-goyangkan kepalamu karena musik yang kau dengar. Jika sore akan berkunjung lagi besok, ijinkan pula aku berdiri di sini membersamaimu menyambutnya”.

Aku tidak bisa tau dengan jelas kepada siapa surat itu tertuju. Tapi, jujur saja. Aku memikirkan sebuah nama, dan nama itu tidak asing bagiku.

Surat kedua:

“Bagaimana soremu? Aah, sore memang sangat ramah. Sunyi dan syahdu. Sama seperti hatimu yang sangat sukar untuk diramaikan dengan kehadiranku. Bolehkan aku cemburu pada sore yang selalu kau temani? Sedang aku selalu berharap agar kau menoleh ke arahku. Dan jika sore akan berkunjung lagi besok, ijinkanaku untuk menyambutnya bersamamu”.

Aaah, itu benar-benar membuatku bingung. Tidak ada petunjuk tentang siapa yang menulis surat itu.  Tapi petunjuk tentang pada siapa surat itu tertuju mulai menggagguku. Aah, nama itu  terpikir lagi.

Intip juga:  Gadis Pencemburu

Surat ketiga:

“Selamat sore untukmu yang selalu bisa membuatku cemburu. Bagaimana rasanya duduk di sana ditemani angin semilir? Apa menyenangkan sekali? Aaah, aku harusnya bertanya apakah menyenangkan menjadi angin semilir? Yang bisa membelai wajahmu dengan lembut. Aaah, lagi itu membuatku cemburu. Jika sore berkunjung lagi besok, ijinkan aku untuk memasang headset untukmu dan bernyanyi bersamamu”.

Aku benar-benar penasaran dengan surat terakhir dan langsung membacanya.

Surat keempat:

“Selamat sore untukmu yang selalu ada di depan mataku. Kuharap sore akan tetap indah seperti yang kau inginkan. Aku ingin duduk di sampingmu, Tasya. Aku ingin menyambut sore bersamamu. Aku ingin menjadi angin semilir yang membelai wajahmu. Dan jika sore berkunjung lagi besok, aku ingin bernyanyi bersamamu sambil menatap matamu. Dari Satya”.   

Dugaanku tidak salah. Surat itu tertuju pada seseorang yang sering duduk di sana sambil mendengar musik, menikmati sore. Dia Tasya, dan itu aku.

Entah kenapa aku begitu bahagia bahwa surat itu ternyata tertuju padaku. Dan yang lebih membuatku bahagia, surat itu ternyata dikirim oleh Satya. Seseorang yang bernyanyi sambil menatapku hingga membuatku jatuh hati.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk mendatanginya yang sedang berdiri di depan kelas ketika jam istirahat. Aku menyodorkan sehelai kertas sambil tersenyum tanpa melihat matanya. Aku tidak sanggup. Aku sangat malu. Dia pun mengambil kertas itu dengan sigap dan aku pergi dari hadapannya.

Di kertas itu kutuliskan:

“Selamat siang untukmu yang selalu menemani soreku. Aku bahagia itu kau. Aku tidak tau kalau seseorang yang romantis sedang bersajak dengan hatinya di belakangku. Sore dan angin cemburu dengan caramu mendapatkan hatiku yang menyukai kesunyian. Dan jika sore akan berkunjung lagi nanti, aku ingin menyambutnya bersamamu di sana. Dan aku ingin angin membelai wajah kita bersama”.   

Dan sore ini, untuk pertama kalinya aku menyambut sore dengan seseorang. Dia Satya. Teman sekelas yang pintar dan jago bermain musik, terutama gitar. Dan kini, dia dan aku saling jatuh hati.

Terima kasih untuk pencipta sore yang menjatuhkan hati kami.


Editor: Kavylla Devy


 

Share this:

Nur Salmah Dalimunthe

Writer dari Medan yang sedang menunggu "jemputan" ke USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *