Kisahku yang Memendam Cinta

Titik Kosong – Aku ingin bercerita tentang rasaku. Tentang kemalanganku yang terpaksa harus memendam cinta. Tentang perasaanku yang tidak bisa sebahagia mereka yang tengah mencinta. Dan tentang segala hal yang mempersoalkan cinta malang ini.

Kisahku yang Memendam Cinta 1
Sumber gambar: buddymantra.com

Aku, mungkin memang tidak seberuntung mereka. Orang-orang di luar sana yang sudah bisa menyanding orang yang mereka cintai. Orang-orang di luar sana yang bisa dengan mudah dan bebas mengekspresikan cintanya. Berkata kepada orang yang mereka cintai tentang rasa yang mereka punya. Dengan mudah. Dengan bebas. Dengan manis.

Lalu, apa kabar denganku? Diam. Ya, hanya bisa terdiam menikmati cinta itu sendiri. Bahkan aku tahu bahwa orang yang aku cintai justru berkata cinta kepada perempuan lain. Aku, memang tidak ada di hatinya. Jangankan di hatinya, di pikirannya pun tidak.

Tapi aku bukan perempuan nekat yang akan berusaha hadir di antara mereka. Tidak. Tidak akan. Aku paham bagaimana aku merasakan kesakitan karena tidak bisa menyanding orang yang aku cintai. Bagaimana mungkin aku hadir dan mengacaukan semuanya? Sedang melihatnya bahagia adalah bagian dari bahagiaku pula. Meski aku juga tak mau munafik saat merasakan sakit sepihak ini.

Bagiku, cintaku adalah cinta malang yang tidak bisa diungkapkan. Hanya itu. Bukan yang lain. Cinta yang entah sampai kapan akan terjebak dalam diam seperti ini. Bagiku, yang harus kuusahakan adalah berdamai dengan perasaanku sendiri. Berdamai dengan kenyataan bahwa aku tidak akan bersamanya. Bukan lagi datang dan mengungkapkannya.

Intip juga:  London yang Masih Jauh

Memendam cinta adalah takdirku. Ia memang tidak tertuju pada orang yang tepat. Tapi aku yakin bahwa segala hal yang terjadi padaku selalu datang dengan alasan. Mungkin saja Tuhan ingin mengajariku tentang ketulusan lewat jalan ini. Sudahlah. Aku yakin banyak juga orang lain di luar sana yang merasakan hal sama sepertiku. Dan mereka bisa keluar dari semua rasa sakit ini tanpa menyakiti orang lain. Menjadi kuat tanpa melemahkan orang lain.

Dia yang kucinta, berhak bahagia dengan pilihannya. Pun dengan gadis yang dia cinta, gadis itu berhak bahagia karena menjadi pilihannya. Sedangkan aku? Aku juga berhak bahagia. Dengan jalan lain. Dengan takdir Tuhan yang lain. Dengan pilihan Tuhan yang selalu tepat untukku. Aku yakin itu.

Memendam cinta ini hanya kisah yang akan berakhir suatu hari nanti. Lebih tepatnya, adalah kisah yang harus kuakhiri. Bukan karena aku tidak bisa mempertahankan cinta yang kupunya, tapi karena aku tidak memiliki alasan apapun untuk mempertahankan cinta ini. Semuanya, harus berakhir. Harus.


Bagian keempat dari Kisah “Yang Terkubur dan Tak Mati”


Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga

Bagian Kelima

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *