Pita Merah Muda

Titik KosongPita Merah Muda, bagian pertama dari kisah yang berjudul The Sign of Feeling. Tentang dua anak muda Beijing yang bermain dengan arti persahabatan.

Pita Merah Muda 1
Sumber gambar: diskon-baru.luluma.club

Yang Bao-yu sedang berdiri sekarang, tepat di sebelah ayunan taman yang sering mereka gunakan di malam hari saat salah satu di antara mereka sedang memiliki masalah. Malam ini dia berjalan sendiri dari apartemen yang tidak jauh dari taman ini. Ada masalah, ya, ada masalah yang menggerogoti Bao-yu.

Yang Bao-yu. Sekarang ia sedang menggenggam pita rambut berwarna merah muda, mungil dan terlihat cantik. Sebenarnya Bao-yu berharap akan ada seseorang yang membelikan untuknya. Tetapi tidak, pita rambut merah muda ini ia beli sendiri di penjual pinggir jalan sore tadi. Ya, sore ini dia pulang sendiri dari kampus.

Malam ini dingin sekali, Beijing memang sedang musim dingin sekarang. Udara di taman ini memang selalu segar, taman ini seakan mengesampingkan hiruk-pikuk kota Beijing. Taman ini selalu menjadi tempat untuk mencari ketenangan. Lampu-lampu terlihat seperti gelembung merah ditambah nuansa kuning di sekitaran lampu itu. Itu cukup menjadi penenang bagi mata Bao-yu yang sudah terlanjur melihat hal yang sebenarnya tidak ingin dia lihat. Bao-yu memilih untuk duduk saja di ayunan sambil merapatkan mantel abu-abunya. Menikmati udara dingin Beijing. Dingin? Aah tidak, Bao-yu sudah terbiasa dengan semua ini. Bao-yu bahkan bisa melewati malam yang lebih dingin.

Intip juga:  Malam Berkabut

“Sudahlah, dia tidak akan melirik gadis tomboy sepertiku,” gumamnya pelan.

Tangannya memain-mainkan pita rambut merah muda, melemparnya ke atas lalu menangkapnya dengan cekatan.

“Aku bahkan bisa melakukan ini,” gumamnya lagi.

Wajahnya bersungut-sungut. Bao-yu berharap menjadi gadis yang ayu dan lembut seperti gadis lainnya, khususnya seperti gadis yang sekarang menjadi teman bermain Lin, lelaki yang menjadi sahabatnya sejak kecil. Tapi Bao-yu tumbuh menjadi gadis tomboy yang kuat, bahkan terlihat aneh jika dia memakai gaun seperti gadis lainnya.

Bao-yu sedang menunduk saat ada bola yang menyentuh ujung kakinya, sedikit mendongak menatap beberapa pemuda tanggung yang bermain di depannya.

“Kalian sudah besar kenapa main di sini? Ini untuk anak-anak,” celotehnya pelan. Padahal Bao-yu juga sudah cukup tua untuk bermain di sini.

Bao-yu berdiri lalu menggiring bola, membawa bola dengan lincah, sesekali memutar bola dengan kakinya. Pemuda-pemuda tanggung di depannya menyambut dengan gembira permainan Bao-yu. Bao-yu mengoper bola ke salah satu dari mereka dan dengan semangat anak itu mencetak gol. Mereka berteriak kegirangan, menghampiri Bao-yu sambil mengangkat-angkat kedua tangan mereka sambil berteriak “gooool”. Bao-yu tersenyum saja menyaksikan ekspresi lucu pemuda yang masih seperti anak-anak itu. Bao-yu kembali duduk di ayunan sambil memain-mainkan pita rambut merah muda.

“Aku bahkan bermain bola dengan baik, haha.” Bao-yu tertawa getir mengingat apa yang baru saja ia lakukan.

Intip juga:  Raga yang Kosong (Sebuah Puisi Kematian)

“Apa yang kau lakuka di sini?” tanya seseorang yang suaranya sangat dikenal Bao-yu. Dia buru-buru menyembunyikan pita merah mudanya.

“Eh, Lin. Tidak ada. Aku hanya sedang bosan. Sejak kapan kau di sini?” Tanya Bao-yu gelagapan.

“Baru saja,” jawab Lin singkat sambil menatap sekeliling, menyapu seluruh yang bisa ia lihat.

“Apa yang kau cari?” tanya Bao-yu.

“Tidak ada,” ketus Lin sambil menarik tangan Bao-yu.

“Ayo pulang. Di luar dingin. Kau bisa kena flu,” sambungnya.

Dingin? Kau pernah membiarkanku merasakan dingin yang lebih dari ini.” ujar Bao-yu dalam hati.

Mereka berjalan beriringan dengan tangan Lin yang tetap memegang tangan Bao-yu. Bou-yu mencoba menatap kesal pada Lin yang terus menarik tangannya meski semburat merah sedang menghaisi pipinya.

Sedang Lin terus saja berjalan seolah ingin cepat-cepat menjauhkan Bao-yu dari taman kesukaan mereka. Lin berpikir mungkin saja Bao-yu baru saja menemui seseorang di sana, jika tidak, untuk apa Bao-yu buru-buru menyembunyikan pita merah muda ketika dia datang.

Mereka Yang Bao-yu dan Wang Lin, dua sahabat sejak kecil yang tanpa sadar salah satunya, atau keduanya telah melewati batas untuk tetap menyebut mereka sebagai sahabat.


Feature image source: chinadaily.com.cn

Share this:

Nur Salmah Dalimunthe

Writer dari Medan yang sedang menunggu "jemputan" ke USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *