Metafora Milan dan Cinta

Titik Kosong – Sedikit pilu tapi tidak menakutkan, cinta selalu punya kisahnya yang membuat kita paham betapa kompleknya perasaan ini. Hanya dengan satu dasar “mencintai” kita mampu melakukan banyak hal yang bahkan nyaris keluar dari akal sehat. Tidak lucu memang, hanya saja, begitulah cara cinta bekerja dalam hati setiap insan yang menyandangnya.

Mencintai … Seseorang selalu punya dasar dalam mencintai. Meski kadang mereka mengaku tak tahu dan hanya hanyut saja dalam perasaannya. Faktanya, cinta selalu punya alasan mengapa ia tetap bertahan.

Lalu, bagaimana kata itu bekerja dalam dirimu?

Saya yakin, orang-orang yang membaca tulisan ini bukanlah mereka yang sedang mencari-cari arti cinta. Bukan “Cah Cinta” yang kesehariannya hanya sibuk membicarakan “seonggok”” rasa itu. Tulisan ini teruntuk mereka yang sudah paham tentang cinta, dan punya rasa itu di dalam hatinya, untuk sesuatu yang ia cintai. Ya, bukan seseorang, tapi sesuatu.

Metafora Milan dan Cinta.

Milan … Satu kata yang jadi identitas sebuah kota di Italia. Bukan, bukan soal kota itu, tapi sebuah klub sepak bola yang ada di sana. Sebuah klub yang saat ini masih sering bangga dengan sejarah. Sebuah klub yang sayangnya saat ini belum bisa kembali hidup seperti cerita mereka di sejarah itu.

Hebatnya, mereka tidak pernah sepi dukungan dari jagat sepak bola. Meski lucunya para fans Milan sendiri saat ini justru sibuk mencaci klub yang katanya mereka cintai.

Intip juga:  Maximiliano Romero, Pemain Muda yang Mulai Menjajaki Sepak Bola Eropa

Dan metaforanya akan kita mulai dari sini.

Gattuso … Berapa banyak orang yang menginginkan dia pergi meninggalkan kursi jabatannya? Banyak? Iya. Banyak sekali. Jika ingin bukti nyata, silakan baca komentar di FP-FP Milan. Meskipun saya tahu ada banyak juga yang ingin Gattuso bertahan tetapi tidak terlihat karena hanya diam.

Well, tentang out dan stay, rasanya tidak perlu disamakan persepsinya. Biarkan mereka hidup dengan pandangan mereka masing-masing. Lagi pula itu hanya sebuah penyaluran emosi yang mungkin juga tidak akan berpengaruh apa-apa.

Tapi ada satu hal yang sedikit menggelitik. Tentang metafora Milan dan cinta. Tentang kemungkinan kalian mencaci dan terus menganggap buruk sesuatu yang kalian cintai, hanya karena “satu” hal yang tidak kalian sukai darinya.

Perempuan itu tertunduk, entah sesal atau kesal. Sudah satu bulan ini dia tidak bertemu dengan seseorang yang mengaku cinta padanya. Sudah satu bulan ini dia diabaikan, bahkan sering dicaci dihadapan orang lain. Karena kekurangannya, karena kelemahannya. Orang yang mengaku mencintainya itu memang banyak tahu dirinya, banyak tahu baik buruknya. Tapi atas dasar itu juga orang itu memaksa perempuannya untuk menjadi sempurna. Bahkan tak ada ketika perempuan itu tengah terpuruk. Sebegitukan kekurangan itu menghancurkan “kata” cinta yang pernah terucap? Dan berkata akan kembali lagi setelah nanti sifat buruk itu sudah pergi? ironi.

Saya tidak ingin berkata jika keberadaan Gattuso adalah sebuah keburukan, tapi nyatanya sejumlah fans beranggapan demikian, bahkan mereka pergi, mengabaikan Milan yang katanya mereka cintai. Bukan hanya itu, parahnya, mereka melempar kata-kata seoalah mereka bukan pendukung tim merah-hitam itu. Aspirasi? Hm.

Intip juga:  Awal yang Baik bagi Ole Gunnar Solskjaer Bersama Setan Merah

Tunggu, mungkin pikiran kalian akan melayang pada kata “sejati” dan “karbitan”. Dan seketika itu saya hanya akan tersenyum mendengarkannya. Label itu sejatinya kalian ciptakan sendiri untuk melabeli diri kalian sendiri juga. Melabeli fokus kalian terhadap sesuatu, “positif” atau “negatif”. Ingat, itu cukup jadi label pribadi kalian yang mendeklarasikan diri sebagai bagian dari keduanya. Bukan untuk mereka yang mencintai Milan tanpa label itu. Tanpa label itu.

Naluri saya pribadi berkata “lucu” untuk tindakan meninggalkan Milan hanya karena satu sebab tidak cocok dengan pelatihnya. Logika kita kadang juga “tertawa” melihat orang yang mengaku cinta tapi ingin sesuatu yang dia cintai itu hancur sebab satu hal yang tidak dia suka. Terlepas dari ada tidaknya label dalam diri fans itu. Tak peduli juga label apa yang dia pakai jika dia punya.

Intinya satu, jika mau ditarik benang merah antara Milan dan cinta; kesal dan marahmu adalah hal biasa saat melihat kejelekan dari seseorang atau sesuatu yang kamu cintai. Tapi demi hatimu sendiri, rasa kesal itu bukanlah alasan untuk menghancurkan apa yang sudah kamu cintai. Berkata buruk, berdoa buruk, dan bahkan mencaci layaknya orang yang membencinya.

Jangan lupakan identitasmu sebagai Milanisti yang sudah berjanji untuk mencintai Milan bagaimanapun keadaannya. Jangan lupa juga kalau keterpurukan ini bukanlah hal yang pertama. Semua fans Milan ingin tim ini kembali sukses dan berjaya, tapi semua itu tetaplah sebuah perjalanan. Dan kita sedang berjalan menuju itu. Satu sifat yang tidak kita sukai dari orang yang kita cintai tidak akan membuat kita meninggalkannya atau justru berdoa buruk untuknya. Sekali lagi, kamu adalah Milanisti (terlepas dari label apapun yang kamu sandang), dan kamu bukan fans lain yang ada untuk mencaci Milan, untuk berharap buruk di setiap pertandingan Milan, hanya karena kamu menggunakan satu tameng “keterpurukan”.

Intip juga:  Mempertahankan Willian di Chelsea Adalah Keputusan yang Tepat?

Dan ketika fans lain saja bisa menghargai klub yang kamu cintai itu, kenapa kamu yang bilang “cinta” justru tidak bisa?

Metafora Milan dan Cinta (1)
Image source: AC Milan
Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

One thought on “Metafora Milan dan Cinta

  • 15/05/2019 at 22:09
    Permalink

    Dan pendekatan penuh simbol serta metafora mulai dari kartupos, gerbong dan rel commuter, dompet, lorong-lorong pasar, palu stempel petugas pos hingga borgol dan pistol untuk menjelaskan cinta di setiap sisi plotnya, mau tak mau memang membawa tone ’

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *