Ada Beda dalam Sebuah Rasa

Titik Kosong – Tentang sebuah rasa. Orang bilang, perbedaan adalah bumbu dalam setiap hubungan. Tidak sedikit juga yang sepakat kalau adanya “beda” membuat kata “lengkap” tercipta. Tapi, bagaimana jika perbedaan membuat cerai sesuatu yang seharusnya disatukan? Bagaimana juga jika beda nyatanya membuat jauh sesuatu yang ingin didekatkan?

Ada Beda dalam Sebuah Rasa
Sumber gambar: LivingNow Magazine

Mungkin lagi-lagi kita serasa dan selara. Punya rasa tapi kandas dicerai beda. Beda keyakinan, beda tempat pijakan, beda simbol bicara, atau mungkin beda-beda yang lainnya. Kuasamu tak mampu mengubah beda itu. Begitupun aku, yang pada akhirnya menyerah dan mengaku kalah.

Lemah? Ya, mungkin saja. Bahkan aku tidak mampu menaruhkan apa-apa lagi. Tidak ada yang bisa kugadai, dan hanya mampu berandai-andai, bila saja beda yang ada dalam sebuah rasa ini tak pernah ada.

Andai di dunia ini hanya ada satu saja yang diyakini. Tidak terbelah dan terpisah pada sembah-sembah yang berbeda tujuan. Andai juga dunia ini tak pernah mengenal jarak, hanya sepetak, dan mampu ditempuh dengan beberapa pijak. Andai lagi dunia ini hanya punya satu jenis lambang bunyi. Semuanya paham dan sepakat dengan satu simbol berbicara dan mampu mengerti semuanya.

Tidak, aku tidak sedang berontak atau menolak takdir. Hanya sebuah pengandaian kecil yang bahkan tidak masuk akal jika dicerna dengan logika. Paham bahwa aku sudah kalah dengan beda yang ada pada sebuah rasa yang aku punya. Aku terima adanya beda itu. Tapi jujur, aku juga mendapat luka karenanya.

Intip juga:  Belajar dari Kehilangan Agar Tahu Pentingnya Menjaga

Andai saja semua beda bisa diserasikan, mungkin kisahku tidak akan jadi serumit ini. Tak ada keluh yang menyita pikiran dan semuanya dapat terselesaikan. Selesai dengan penyelesaian yang apik tentunya. Bukan penyelesaian yang masih terus saja mengusik.

Aku memang belum rela, atau bahkan tidak pernah rela dengan perpisahan yang berbuah dari perbedaan. Tapi apa mau dikata, dipaksa serasi pun sudah tidak bisa.


Baca juga:
Untukmu yang Sudah Melepaskannya

Memilih Pendamping Hidup
Mencintai Adalah Sebuah Takdir


Feature image source: LivingNow Magazine

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *