Tunggu Aku di Depan Pintu

Titik Kosong – Tunggu Aku di Depan Pintu, sebuah rangkaian kata yang berjalan menuju kerinduan, tentang penantian yang menuntut kesabaran, dan cinta yang suatu hari nanti akan kembali bersua.

Tunggu Aku di Depan Pintu
Sumber gambar: unsplash.com

Waktu yang singkat ini akan bertahan di kepala
Menjadi waktu yang diisi oleh ingatan yang layak untuk dikenang
Gelapnya malam dan teriknya matahari menjadi saksi kebersamaan
Pohon rambutan tersenyum setiap kali menemukan kita duduk bersama
Nyiur hijau daun kelapa melambai-lambai setiap kali mendapati kita saling melempar canda
Oh, aku berharap waktu akan berhenti walau sesaat, sedikit lagi, sebentar saja
Membiarkan kita menetap di momen berharga ini, sebentar lagi, kumohon

Jangan lupakan nyamuk-nyamuk yang iri pada keseruan kita
Berdengung menyuruh kita untuk segera pulang ke peraduan
Tapi bagaimana? Semua yang kita jalani terlalu berharga untuk segera diselesaikan, sedikit lagi, sebentar saja

Aku melihat air jernih mengalir deras, dan kau terayun diantaranya
Suara kikikan menyatu dengan gelombang air, melayang dan hanyut, tapi kau ada di sini, bersamaku

Aku ingin waktu berhenti sekarang, menyisakan kita yang menetap pada momen ini
Saling mendekap di antara rindu yang menyeruak
Sudah kubilang, rasa rindu sering kali menggerogoti kesendirianku
Dan aku tak mau merasakannya lagi, cukup, aku muak dengan rindu

Tapi ini sia-sia, waktu tidak setuju untuk bekerjasama
Si waktu akan tetap menuruti tugasnya, menancap gas untuk melaju bertemu dengan masa depan
Dan kita akan terpisah jarak pada waktu yang telah ditentukan
Dan waktu itu sedang mengejekku, menghantuiku, menjulurkan lidahnya padaku, berkata bahwa ia akan segara datang

Intip juga:  Semuanya Sudah Benar-benar Selesai

Jadi, beginikah? Berpisah lagi?

Baiklah, mari positif saja. Ini terbaik, bukan?
Jika waktu tega memisahkan kita, maka ia jugalah yang akan mempertemukan kita

Jadi, sampai jumpa lagi
Kau pasti merindukanku, bersiaplah, siapkan hatimu
Dan ya, tunggu aku di depan pintu

Simatorkis, Sumatera Utara, Indonesia, 2019


Baca Juga:

Sajak untuk Galata

Malam Berkabut

Kita Masih Muda: Angkatan Sembilan Puluhan

Raga yang Kosong (Sebuah Puisi Kematian)


Share this:

Nur Salmah Dalimunthe

Writer dari Medan yang sedang menunggu "jemputan" ke USA.

3 thoughts on “Tunggu Aku di Depan Pintu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *