Puisi Kematian: Tentang Kenang dan Kehilangan

Titik Kosong – Sebuah puisi kematian, teruntuk sahabat yang sudah pergi meninggalkan kami. Tiada bukan berarti lupa, karena sebenarnya saat ini kita hanya sedang jauh saja. Sedang kenang dan doa masih sering berpaut.

Tidak ada yang baik-baik saja saat kehilangan orang yang dekat dan berarti dalam hidup kita. Apalagi jika ia pergi untuk selama-lamanya. Pasti saja selalu ada luka yang tersisa. Lengkap dengan bayang-bayang masa lalu saat masih bisa bersama.

Puisi sederhana ini terangkai untuk mudah dipahami. Paham, jika kehilangan itu sangat menyakitkan. Meski begitu, pada akhirnya akan tetap ada kenang yang tidak bisa hilang.

Puisi Kematian Tentang Kenang dan Kehilangan
Sumber gambar: islampos.com

Puisi Kematian

Kepada sukma yang sudah pergi meninggalkanku

Bersamamu dulu adalah kenang yang kini kurindu
Di saat kita masih sering sama mengadu
Bersama dalam bahagia
Dan saling memeluk dalam duka

Jalan alam kini memisahkan kita
Memaksamu jauh dan pergi meninggalkanku
Tak ada lagi tawa bersama
Tak juga ada kehadiranmu yang sering menguatkanku

Dulu kita berjuang bersama
Menyeka peluh bersama, dan saling genggam untuk menguatkan
Tapi kini kau sudah pergi
Tinggal kenang yang masih membayang
Dan rasa sayang, yang tidak sedikitpun berkurang

Ketiadaan sama sekali tak buatku lupa
Kau adalah teman abadi
Yang akan selalu singgah di hati
Tetap di sini
Dalam ada ataupun tiada

Intip juga:  Yang Terkubur dan Tak Mati

Teruntuk sahabat yang sudah pergi meninggalkanku
Kuhantarkan kepergianmu dengan cinta
Bersama doa terbaik agar kau bahagia di sisi-Nya

Selamat jalan, Kawan
Semoga Tuhan menjagamu di sana
Dalam kedamaian dan kasih abadi

Untukku, untukmu, dan semua orang yang pernah merasakan kehilangan. Mari sejenak luangkan waktu untuk mengingat mereka dalam doa kita. Semoga yang sudah mendahului pergi mendapatkan tempat yang tenang di sana. Dalam kedamaian bersama Tuhan. Dan dalam selimut cinta-Nya yang abadi.

Biat kita di sini selalu mengenang mereka dalam kebaikan saja. Dengan memori manis yang tidak akan pernah terkikis.

Dan puisi kematian ini biar jadi saksinya, tentang batin dan ingatan yang masih mengenang serta merasa kehilangan.

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *