Tentang Hati yang Sudah Sekian Kali Dipatahkan

Titik Kosong – Tidak ada candu yang meracuni benakku untuk menuliskan kisah ini. Hanya sekilas cerita orang lain saja yang membuatku ingin ikut menuliskan apa yang sudah pernah aku rasakan. Tentang hati yang sudah sekian kali dipatahkan. Tentang perasaan yang sudah berkali-kali juga dipulangkan.

Miris memang.

Namun bukan kasihan yang aku harapkan. Tidak pula ingin kalian menganggap hidupku tidak bahagia. Karena kisah ini hanya satu bagian dari kehidupanku yang sebenarnya. Ia hanya mencuri sebagian waktuku untuk bersedih dan merenung. Selebihnya, aku masih bisa tersenyum.

Butuh keberanian yang tidak biasa untuk mau dan mampu mengumbar rasa. Mengumbar rasa sakit kepada orang lain yang mungkin sebagian dari mereka hanya akan menertawakan. Sebagian lainnya bisa jadi justru akan menyebarkan cerita yang dibumbui sesuka hati. Tapi begitulah resiko orang yang membagikan kisahnya. Meski sebenarnya tujuan awalnya hanya satu, menangislah bersamaku jika kamu merasakan hal yang sama. Tapi setelah ini, aku ingin menguatkanmu.

Manusia pernah terluka pastinya. Yang pernah merasakan cinta mungkin pernah mengalaminya. Aku yakin sakitku kali ini tidak aku alami sendiri. Dan kamu, bisa jadi salah satu orang yang senasib denganku. Atau mungkin setidaknya pernah merasakan kesakitan itu.

Sebuah Mula.

Lima tahun yang lalu menjadi titik di mana hidup sudah mulai berubah dan menjadi semakin terjal. Ketenangan orang yang hanya merasa bahagia terusik oleh kehadirian beberapa orang dalam hidup ini. Hebatnya, mereka semua datang dengan senyuman yang begitu manis. Sebelum pada akhirnya berpamitan lagi sambil menyakiti. Bukan, bukan luka atau sayatan. Hanya sebuah patahan pada hati yang mencederai.

Intip juga:  Ada Beda dalam Sebuah Rasa

Tapi tenang, aku tidak akan mengasihani diriku sendiri. Tidak pula karena aku ingin mengais perhatian dari seseorang. Aku hanya ingin bercerita, tentang apa yang sudah selalu aku simpan sendiri. Dan biarkan mereka tahu, bahwa manisnya hidup tidak selalu manis seperti nampaknya.

Tunggu.

Kamu dan mereka juga harus tahu, bahwa meskipun kepahitan itu ada, hidup selalu punya rasa manisnya. Apa yang kalian lihat dariku selama ini bukan kepalsuan. Aku juga tidak sedang berpura-pura tersenyum. Jadi, cukuplah tahu, bahwa apa yang akan kalian baca dariku hanyalah bumbu kehidupan, yang meskipun pahit dan menyedihkan, tetap bisa kita lunturkan dengan senyuman.

Baiklah.

Setelah ini, aku ingin membawamu pada suatu kisah. Tentang daun kering yang tertiup angin di bulan Februari tahun lalu.


Feature image source: jitunews.com

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *