Kisah Cinta dan Perbedaan: Tak Akan Ada Matahari

Titik Kosong – Tak Akan Ada Matahari adalah sebuah cerpen persahabatan yang mengisahkan tentang Matahari dan Langit di musim dingin. Redup. Muram.

“Kenapa kamu tidak tidur, Kak?”

“Hanya ada kegelapan bila aku tertidur.”

“Apa kamu tidak lelah memandangi langit sejak tadi? Bintang sudah lama hilang. Dan lihat itu! Bulan masih saja mengizinkan mendung menutupinya.”

“Aku menunggu matahariku datang. Hanya itu.”

“Sudahlah. Tidak akan ada matahari pagi ini.”

***

Aku mengawali hari yang berbeda pagi ini, tanpa sahabat terdekatku. Bahkan angin pun tidak ingin bersahabat denganku. Ia bertiup tak terkendali. Butiran salju lembut berterbangan menutup rumput-rumput kecil di taman depan rumah. Sebenarnya aku ingin keluar melihat langit cerah pagi ini. Namun, lagi-lagi cuaca tidak bersahabat kepadaku.

“Aku benci hidup tanpa sahabat,” ucap lirihku menyesali kepindahan ini. Kepindahan yang menjauhkanku dari teman masa kecilku. Sahabat yang selalu setia menemani hidupku, bahkan menuruti apa pun yang aku mau.

“Kamu hanya belum menemukan sahabat baru di sini.” Ternyata Zavier mendengar keluhan lirih yang sebenarnya ingin aku dengarkan sendiri saja. Aku tidak ingin kakakku merasa bersalah, karena bagaimanapun juga dialah satu-satunya alasan yang membuatku meninggalkan Italia dan tinggal di kota London ini.

“Iya, Kak. Besok pasti aku punya sahabat banyak di sini,” jawabku dengan polos sambil melempar senyum manja kepadanya.

“Kamu boleh jalan-jalan kemana saja, asal jangan pulang ke Milan dulu.”

Inilah yang disebut batas dari sebuah kebebasan. Kebebasan semu yang diucapkan hanya untuk basa-basi sebelum mengatakan suatu larangan. Ya, aku hanya ingin kembali ke Milan. Bahkan jernihnya sungai Thames dan megahnya London Bridge pun tidak akan dapat mengalihkan pikiranku dari kota tempat ayahku dilahirkan, Milan.

“Aku akan tetap di sini, Kak. Tenang saja. Jangan pikirkan aku. Fokus untuk audisi saja.” Aku mencoba menenangkan kakakku meskipun sebenarnya aku sendiri tidak nyaman berada di sini.

Zavier meninggalkan aku sendirian dan beranjak kembali ke kamarnya. Aku masih memandang langit dan berharap ia akan menjadi cerah seperti yang aku mau. Namun aku menyerah, menjatuhkan tubuhku ke sofa sambil menerbangkan harapanku pagi ini. Handphone-ku berdering, “Sky” nama yang membuatku dengan sigap menjawab panggilan itu.

“Stanis…” ucapku lirih lemas.

“Tidak ada matahari pagi ini.” Sama lirih dengan yang kuucap. Suaranya melambangkan keputusasaan.

“Langit juga tidak cerah hari ini.”

“Bagaimana langit bisa cerah jika matahari meninggalkannya!” kali ini dia meninggikan suaranya. Aku tahu dia marah padaku. Belum sempat aku menjawab, dia kembali berkata, “Maaf Sun, aku hanya merindukan sahabatku.”

“Satu hal yang perlu kamu tahu, Stanis. Matahari tidak akan pernah meninggalkan langit. Kecuali jika Tuhan telah menakdirkannya untuk binasa. The sun will always be a part of the sky.”

“Aku tahu, sudahlah! Tapi aku tidak suka jika kamu menyebut kata binasa.” Dia menutup telepon itu. Tanpa kata-kata manis seperti biasanya.

***

Tak Akan Ada Matahari2
Sumber gambar: eropa.panduanwisata.id

Malam keduaku di kota London. Aku mengantarkan kakakku untuk mengikuti audisi grup musik bersama teman-temannya. Yang aku tahu, dia adalah drummer terhebat di dunia ini. Berada di dalam mobil bersama mereka membuatku sedikit lupa dengan langit yang hitam. Aku salah jika London tidak mampu membiusku.

Intip juga:  Pita Merah Muda

“Agnella, lihat itu.” kata Hazzell, salah satu teman kakakku. Dia menunjuk London Eye yang terlihat sangat cantik di seberang kanan kami. “Mata London secantik matamu,” lanjutnya, yang membuat suasana di dalam mobil menjadi gaduh. Sedangkan aku tidak menganggapnya sebagai hal yang serius. Hanya sebuah lelucon anak muda yang sebentar lagi akan kehilangan umur belasannya. Ya, sama seperti Zavier, mereka berumur 19 tahun, dua tahun di atasku.

Zavier telah lama tinggal di Inggris, ini merupakan tahun ketiganya belajar di University of Bradford. Dia bersama keempat temannya mendirikan grup musik yang sudah cukup terkenal di kampusnya. Kali ini mereka ingin mencoba peruntungan untuk mengikuti audisi musik di sebuah acara televisi. Aku tidak tahu pasti kenapa Zav memintaku menemaninya ke Kota London ini. Zav sudah terbiasa sendiri. Dia sudah besar. Baru setelah aku tiba di tempat audisilah aku menemukan jawabannya. Kebanyakan dari peserta datang bersama keluarga atau orang terdekatnya. Mungkin itu yang dibutuhkan Zav dariku. Berada di sini untuk sekedar tersenyum memberinya semangat sebelum masuk ruang audisi. Mungkin.

“Doakan kakak, Lla.” Zav menggenggam tanganku.

As always.” Aku tersenyum kepadanya. Dia mengecup keningku sebelum memasukki ruangan yang menurutku mengerikan itu.

***

Mereka keluar dari ruang audisi dengan kepala tegak dan senyuman yang lepas. Hazzell tiba-tiba memelukku dan meluapkan kegembiraannya.

Next round, Dear,” ucap Hazzell yang masih memelukku. Sebelum akhirnya Zav menarik baju Hazzell dan memarahinya. Aku hanya terdiam. Terpaku. Terlalu bahagia. Aku memandang Zav dengan senyum kebanggaan. Aku dapat melihat mata-mata kebahagiaan yang ada pada mereka.

***

Malam audisi berakhir. Sesampainya di rumah aku menghampiri kakakku yang duduk di sofa sambil menonton TV. Dia masih terlihat sangat bahagia. Seperti dia menemukan jalan atas mimpi-mimpi yang telah lama dia perjuangkan.

“Kak, besok aku ingin kembali ke Milan.” Entah apa yang membuatku senekat itu mengatakan hal ini. Seketika senyum di wajah itu berubah menjadi dingin.

“Oh.” Hanya itu yang dia katakan. Dia meninggalkan televisi tanpa dimatikan. Dia berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu dengan kasar. Aku mendapat jawaban lewat apa yang dia lakukan. Aku tak mungkin kembali ke Milan esok hari.

Malam itu, aku mengirim pesan singkat kepada Stanislaus sahabatku. Aku mengabarkan berita bahagia mengenai keberhasilan kakakku di audisi pertama ini. Sekaligus mengabarkan bahwa aku belum dapat kembali ke Negeri Spaghetti itu. Di luar dugaanku, hanya dua huruf balasan darinya. “si”, hanya pengiyaan itu yang aku dapatkan.

Malam ini bukanlah malam yang baik untukku. Tidak seharusnya aku disudutkan seperti ini. Tidak seharusnya aku memilih sesuatu yang bukan merupakan sebuah opsi. Karena kakak dan sahabat bukanlah sebuah pilihan yang salah satunya harus aku kalahkan. Darah memang mengikatku dengan Zav, namun dia telah lama hidup jauh dariku. Dan Stanis sahabatku adalah orang yang telah mengambil semua tanggung jawabnya sebagai seorang kakak, ketika Zav jauh dariku. Dia adalah sahabat yang menenangkanku.

***

Tak Akan Ada Matahari3
Sumber gambar: wolipop.detik.com

Hari ketiga di kota London. Hampir setengah hari Zavier tidak menyapaku. Dia membisu. Seolah menghadirkan kesunyian malam di siang hari. Sesekali aku mendapati ia memandangku. Namun ketika bola mata ini hendak bertemu, dia memalingkan wajahnya. Kadang menengok. Kadang menunduk. Aku sudah terlalu lelah untuk diam. Aku berdiri dan menghampiri kakakku. Dia tetap menunduk tak acuh.

Intip juga:  Mencintai Italia

“Kenapa kakak melarangku kembali ke Milan?” tanyaku, dengan nada yang aku lembutkan selembut-lembutnya.

“Kamu tidak akan pernah mengerti,” jawabnya pelan namun tegas. Aku menghentikan usahaku untuk berbicara dengannya. Kami kembali terdiam. Aku benci suasana seperti ini. Aku melangkahkan kaki keluar rumah. Menjauh, semakin jauh, dan lebih jauh lagi. Hingga aku berada di pinggir jalan besar dan menaiki metro yang berhenti di depanku. London Eye. Tempat itu yang aku tuju. Karena hanya mata London yang dapat menyihirku untuk tetap berada di sini.

Aku turun dari metro. Belum lama kaki ini melangkah, ada seseorang yang meletakkan mantel di pundakku. Dan aku tahu, mantel itu adalah milikku. Aku memutar badanku untuk melihat orang itu. Aku berharap itu Zav yang datang menemaniku. Tapi aku salah, Hazzell yang kini ada di sampingku.

“Ini winter Lla, siang pun tetap dingin. Jangan melupakan mantel ketika ingin berpergian. Tadi aku datang ke rumahmu. Belum lama setelah kamu pergi dan Zav memintaku untuk mengikutimu.” Dia tersenyum manis. Aku membalas senyumnya dengan singkat dan meneruskan langkahku mendekati biang lala raksasa itu.

***

Aku dan Hazzell berada di dalam kapsul London Eye, bersama sekitar dua puluh orang lainnya. Hazzell tidak pernah berhenti membuatku kagum pada keindahan kota ini.

“Aku yakin, kalau kamu tinggal satu bulan saja di sini, kamu tidak akan pernah ingin meninggalkan London,” katanya dengan penuh keyakinan.

“Italia juga indah. Piazza Duomo Milano, Grand Canal Venezia, Juliet’s House di Verona, semuanya juga indah Haz.”

“Hmm. Suatu saat kamu akan mencintai England seperti kamu mencintai Italia.”

I don’t think so.” Aku melemparkan senyum kecut kepadanya. Dia lalu membimbing mataku untuk melihat Kota London dari kapsul indah ini.

“Lihat Lla, di sisi utara itu.”

Royal Opera House?”

“Yup, ada Alexandra Palace juga. Dan…”

“Aaah, British Museum ya?

“Iya, kalau di sebelah kiri kita itu Stasiun Waterloo.”

Waterloo? Kereta Eurostar yang bisa mengantar kita ke kota-kota di Eropa?”

“Iya cantik.” Hazzell masih terus membimbingku dan bercerita banyak tentang tempat-tempat indah di kota ini. Kegagahan Big Ben di sisi selatan turut melengkapinya. Begitupun kemegahan Istana Buckingham di sisi barat kami. Namun mataku terhenti pada sebuah katedral yang terlihat dari kejauhan.

“Katedral apa itu Haz?” tanyaku, yang tetap tidak memalingkan mata dari bangunan itu.

“Katedral Westminster, Dear. Khas dengan arsiterkur gothiknya.” Selintas bayanganku melayang ke Italia. Katedral Milano yang mengingatkanku pada langit yang ketika kupandang lagi masih saja mendung.

“Dulu aku sering mengantarkan sahabatku, Stanislaus, ke Katedral Milano. Aku menunggunya di luar. Sampai dia selesai beribadah.”

“Untuk apa kamu melakukan itu Lla?”

“Entahlah. Bahkan terkadang orang menatapku dengan aneh. Bagaimana tidak, seorang muslim dengan kain menutup seluruh badan ini berdiri di depan katedral.”

“Mungkin itu yang membuat keluargamu takut,” kata Hazzell lirih.

“Takut? Takut apa?”

Tiga puluh menit berlalu, Hazzell mengajakku turun dari London Eye dan masih menggantung pertanyaanku. Hingga keriuhan membuatku lupa dengan pertanyaanku sendiri.

Intip juga:  Sanggupkah Kau Setia?

***

Tak Akan Ada Matahari
Sumber gambar: pixabay.com

Aku memasuki rumah dengan Hazzell tanpa mengucap salam atau sapaan apa pun. Aku mendengar suara Zav yang sedang berbicara serius dengan menggenggam dan menempelkan handphone di telinga kirinya. Dia tak menyadari kedatangan kami.

“Aku akan tetap menahan Agnella di sini, Ma. Ini bukan masalah dia tak boleh bergaul dengan pemeluk agama lain. Tapi dia sudah terlalu dekan dengan Stanis. Kita tidak bisa menjaga dia di Italia. Paman sudah tidak sanggup mengingatkannya. Agnella sudah besar dan sudah belajar tentang cinta. Aku takut dia jatuh cinta pada lelaki yang salah. Lelaki yang berbeda dengan kita.”

Kata-kata itu sangat tidak kuharapkan. Ternyata Zav sedang berbicara dengan Mama yang sudah tiga tahun ini tinggal di Indonesia. Jauh dari kami, anak-anaknya. Tapi, apakah itu alasan untuk mencurigaiku seburuk ini?

“Tenang saja, Kak. Aku dan Stanis hanya bersahabat. Tidak lebih.” Zav terkejut dengan kedatanganku. Namun dia mencoba untuk tetap bersikap tenang.

“Kamu tidak akan mengerti jika hanya kakakmu yang menasehati, jadi biarkan Mama yang berbicara padamu. Aku berharap kamu sebagai anak mau menurutinya.”

Zav menyerahkan handphone-nya padaku. Dan apa yang dikatakan Mama senada dengan yang kudengar dari Zav tadi. Dadaku bagai diserbu oleh lemparan batu. Aku mulai mengerti mengapa aku ada di kota ini. Bukan untuk menemani atau memberi semangat saat kakakku audisi. Melainkan mencoba untuk dijauhkan dari seorang sahabat yang mereka anggap berbeda. Sahabat yang mereka anggap akan menjadi lebih. Lebih berarti dan lebih berpengaruh dalam hidupku.

Aku berusaha menyalahkan mereka, meskipun mereka tak sepenuhnya salah. Aku memang sangat dekat dengan Stanis. Dan kedekatan itu yang menyatukan segala perbedaan yang kami miliki. Kita tidak pernah berpikir tentang perbedaan keyakinan. Cinta persahabatan kami telah mengukir kedamaian dengan ketulusan sikap saling menghargai. Kami sadar batas. Dan aku pun tidak gagal paham dengan aturan bercinta dalam agama. Seharusnya mama percaya kepadaku. Tetapi aku tidak ingin membuat pengingkaran atas perintahnya kali ini.

Senja seharusnya tiba, namun tetap tak ada matahari terbenam yang menjadi tanda. Matahari Inggris benar-benar enggan menampakkan diri. Ia menyerah dan pasrah pada mendung hitam yang menyelimutinya. Aku menguatkan diri ini, menulis e-mail untuk langitku, sahabatku.

Untuk Langit, yang Tuhan jaga dan Tuhan kasihi

Seperti halnya matahari, ia kadang terlihat namun terkadang bersembunyi. Seperti halnya langit, ia terkadang biru, tapi juga bisa berubah menjadi kelabu. Sahabat, itulah kau dan aku. Italia kehilangan sinar matahari di musim dingin, begitupun Inggris yang kehilangan langit cerahnya. Tapi yakinlah bahwa musim semi akan segera tiba. Akan ada yang baru di hidupmu hingga kau merasa bahagia. Bahkan mungkin jika musim panas datang, ketika matahari banyak memancarkan sinarnya, kaujustru terganggu dengan keberadaannya.

Ada yang tak dapat kuceritakan di sini, tapi mereka semua bermakna satu, AKU TAK DAPAT KEMBALI.

Your Sun

Agnella L. R.

Dengan berat aku juga mengirim pesan kepada Fiorensaa, adik Stanislaus. Aku berpesan padanya untuk selalu berkata kepada kakaknya ketika pagi tiba.

Bahwa …….

TIDAK AKAN ADA MATAHARI PAGI INI.

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *