Nanti Biar Kukatakan Bahwa Aku Sudah Tidak Bahagia

Titik Kosong – Seperti bom waktu yang tinggal kita tunggu ledakannya saja. Mungkin, itulah rasaku yang sudah mulai jera dengan semua keadaan yang ada. Ketika semua hal yang aku harap bisa baik-baik saja ternyata tetap tak kunjung membaik, rasanya aku juga sudah lelah untuk memperbaikinya. Dan mungkin, aku sudah tidak bahagia. Ya, mungkin saja.

Aku Sudah Tidak Bahagia
Sumber gambar: halogeet.com

Bukan berarti menyerah ketika kita sudah mencoba berkali-kali. Mengalahkan semua rasa yang tidak karuan dengan usaha-usaha serta perjuangan. Memberikan banyak sekali kesempatan meski telah berulang kali disakiti dan dikecewakan. Lalu, semua ini harus sampai kapan?

Tidakkah aku juga layak untuk merasa bahagia setelah sekian waktu hanya menikmati luka? Tidak cukupkan perjuanganku yang selama ini hanya terbalas dengan luka yang sama. Lantas, harus berapa kali pemakluman? Harus berapa kali lagi kesempatan yang aku berikan? Masih apa lagi yang kurang?

Jika saja hatiku hanya ditakdirkan untuk terinjak dan dilukai, mungkin aku masih akan kuat untuk terus-menerus disakiti. Tetapi tentu aku berpikir bahwa Tuhan juga menciptakan bahagia untukku, hanya saja mungkin tidak denganmu. Untuk itu, mungkin, ketika bom waktu ini sudah tiba masanya, akan terungkap semua rasa yang sekian lama aku tahan. Untuk kamu tahu, untuk kamu pahami jika kamu bisa memahaminya.

Nanti, akan kukatakan padamu bahwa aku tidak bahagia. Aku sudah tidak bahagia. Sekian upaya sudah kuperjuangkan untuk tidak menyudahi segalanya, tetapi hanya kecewa yang menjadi balasannya. Aku sudah hampir kalah. Dan jika kau sebut ini sebagai kata menyerah, maka biarkan saja. Karena faktanya, selama ini, selalu aku yg berjuang untuk bertahan, sedang dirimu, berubah demi kebaikan saja tak mau.

Intip juga:  Memilih Pendamping Hidup

Bukan aku menuntutmu untuk menjadi orang lain, aku hanya berharap bahwa kamu bisa menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Dulu, selalu ada keyakinan bahwa dirimu mampu melakukan itu semua, sebelum asa berubah menjadi kecewa, dan harapan selalu saja kamu musnahkan. Sekarang, lakukan saja apa yang kamu mau. Demi segala sesuatu yang kamu sebut kebebasan dan kebahagiaan itu. Aku, sudah cukup lelah untuk mengingatkan lagi.

Kelak, aku hanya berharap bahwa kamu akan belajar dari semua yang sudah terjadi. Dan semoga, semua itu belum terlambat. Meski rasanya sudah akan terlambat untukku, karena aku sudah tidak akan bersanding dan melihatmu lagi.

Hanya doa terbaik, dari hati yang sudah jera. Semoga kelak, tidak ada lagi perempuan yang kau sakiti karena keegoisan dan kebebasanmu itu. Dan semoga, wanita setelahku yang bersanding denganmu, bisa merasa lebih dihargai dan dibahagiakan olehmu.

Kucukupkan, karena setelah menulis ini aku semakin yakin untuk berkata padamu, bahwa aku sudah tidak bahagia. Dan maaf, jika saat ini juga, aku ingin berjalan sendiri tanpamu lagi.

Share this:

Kavylla Devy

Pengagum bahasa yang masa kecilnya lebih banyak dilalui untuk bercinta dengan Matematika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *